Liechtenstein: Negeri Tanpa Liga Sepak Bola

oleh -10 Dilihat

BAYANGKAN ada negara dengan jumlah penduduk hanya sekitar 35 ribu jiwa dan luas wilayah yang hanya sedikit lebih besar dibanding Kota Jakarta Selatan. Kira-kira, di situasi seperti itu, bagaimanakah aktivitas persepakbolaannya?

Kami tidak sedang mengada-ada. Di sini, kami sedang bicara mengenai Liechtenstein, sebuah negara mungil yang nyempil di antara Swiss dan Austria. Di negara berbendera biru-merah itu, seperti sudah bisa diduga, tidak ada liga sepak bola.

Hal ini cukup menarik mengingat Liechtenstein secara rutin mengirimkan tim nasionalnya — untuk jadi lumbung gol — di laga kualifikasi Piala Dunia maupun Piala Eropa.

Dari rahim negeri yang nangkring di Pegunungan Alpen itu, bahkan bisa lahir seorang pesepak bola yang pernah berlaga Serie A Italia, Mario Frick. Bagaimana bisa mereka punya tim nasional dan pemain seperti Frick kalau liga sepak bola saja tidak punya?

Jawabannya sederhana. Semua — total, ada tujuh — klub sepak bola Liechtenstein ternyata menumpang bertanding di Liga Swiss, dan dari tujuh klub tersebut, FC Vaduz-lah yang jadi jagoannya.

Saat ini, FC Vaduz — yang berasal dari ibu kota Liechtenstein, Vaduz, sedang berlaga di Swiss Super League, kompetisi divisi teratas di Liga Swiss.

Meski begitu, posisi mereka di divisi itu kini sedang terancam. Dari 18 laga yang telah mereka jalani, klub berseragam merah-merah tersebut masih terjebak di posisi juru kunci liga. Poin mereka (16) sebenarnya sama dengan FC Thun yang ada setingkat di atas mereka, hanya saja, FC Thun lebih unggul selisih gol.

Kesempatan FC Vaduz untuk lolos dari degradasi ke Challenge League (divisi kedua) pun sebenarnya masih sangat terbuka lebar.

Ketika FC Vaduz pertama kali promosi ke Swiss Super League pada 2008, banyak penggemar sepak bola Swiss meradang. Bagi mereka, keberadaan sebuah klub dari negara tax haven yang kaya, dengan bekingan bank nasional, tentu akan membahayakan persepakbolaan Swiss secara keseluruhan.

Namun, setibanya di Swiss Super League, FC Vaduz tiba-tiba menjadi ikan kecil di kolam besar. Padahal, ketika mereka berlaga di Challenge League, mereka sulit sekali dibendung.

Di Swiss Super League, klub ini hanya kerap jadi tempat peminjaman pemain-pemain muda bagi klub-klub besar di Swiss. Salah satu contoh pemain yang sempat “disekolahkan” di FC Vaduz ini adalah Yann Sommer, penjaga gawang utama Tim Nasional Swiss saat ini. Sommer yang mentas dari akademi FC Basel sempat dikirim ke FC Vaduz untuk mencari pengalaman selama dua musim.

Setelah mereka promosi pada 2008, FC Vaduz pun langsung terdegradasi pada akhir musim. Mereka baru bisa kembali ke Swiss Super League pada musim 2014/15. Sejak itu, mereka memang belum pernah terdegradasi lagi, tetapi hal itu selalu mereka raih dengan finis di posisi kesembilan.

Perlu diketahui bahwa Swiss Super League dihuni oleh sepuluh klub dan tiap musimnya, hanya klub peringkat buncitlah yang terdegradasi pada akhir musim. Kini, nasib FC Vaduz pun belum kunjung membaik di Super League.

Selain FC Vaduz, enam klub Liga Swiss yang berasal dari Liechtenstein lainnya adalah FC Balzers, USV Eschen/Mauren, FC Ruggell, FC Schaan, FC Triesen, dan FC Triesenberg.

Mengingat banyaknya jumlah pemain Swiss di FC Vaduz, maka FC Balzers-lah yang kemudian menjadi klub penyumbang pemain timnas terbanyak. Pada pemanggilan terakhir untuk Kualifikasi Piala Dunia tanggal 12 November 2016 lalu, ada enam pemain dari FC Balzers dalam skuat berisikan 23 pemain.

Meski tidak memiliki liga sepak bola sendiri, bukan berarti di Liechtenstein sama sekali tidak ada aktivitas sepak bola. Klub-klub asal Liechtenstein itu, meski bermain di Liga Swiss dan Piala Swiss, juga harus berlaga di Piala Liechtenstein.

Di sini, ada aturan yang unik. Jika, katakanlah, FC Vaduz mampu menjuarai Swiss Super League, mereka berhak untuk mengklaim diri sebagai juara Swiss. Akan tetapi, mereka tidak bisa lolos ke kompetisi antarklub Eropa lewat jalur ini. Piala Liechtenstein itulah yang ditetapkan oleh UEFA untuk menjadi jalur bagi klub-klub Liechtenstein untuk bisa bermain di kompetisi antarklub Eropa.

Tentu kompetisi kontinental yang diikuti bukan Liga Champions, melainkan Liga Europa. Itu pun hanya sang juara saja yang berhak lolos. Aturan demikian diberlakukan menyusul koefisien Liechtenstein yang amat rendah di Eropa.

Terseok-seok di negeri orang, FC Vaduz tak punya tandingan di negeri sendiri. Sejak pertama kali dihelat pada 1945, FC Vaduz sudah menjadi juara sebanyak 44 kali. Bayangkan, 44 kali. Sementara itu, FC Balzers menjadi pemenang terbanyak kedua dengan raihan 11 trofi.

Tiga klub lain, FC Triesen (8), USV Eschen/Mauren (5), dan FC Schaan (3) sempat beberapa kali menggoyang dominasi Vaduz-Balzers, sedangkan dua klub lain, FC Ruggell serta FC Triesenberg, masih nirgelar. Dominasi FC Vaduz ini benar-benar tampak nyata ketika mereka berhasil menggilas FC Schaan 11-0 pada partai final musim 2015/16 lalu.

Saat ini, Liechtenstein ada di peringkat ke-188 FIFA; hanya setingkat di atas Brunei Darussalam. Mereka memang bukan negara Eropa terburuk karena di bawah mereka masih ada San Marino (202), Andorra (203), dan “si anak baru”, Gibraltar (205).

Liechtenstein pun tampaknya tidak akan mengalami peningkatan signifikan dalam waktu dekat. Akan tetapi, setidaknya mereka punya alasan mengapa prestasi sepak bola mereka buruk. Kalau mencari 11 orang dari 250 juta saja sulitnya bukan main, bagaimana kalau cuma dipilih dari 35 ribu orang? ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *