Oyong Liza : Tragedi Kanjuruhan Tanggungjawab Federasi, Panpel dan Keamanan

oleh -25 Dilihat

TRAGEDI Kanjuruhan yang meluluhlantakkan Stadion Kanjuruhan Malang, merupakan noda hitam yang sangat sulit kan terhapus di benak pecinta sepakbola Indonesia bahkan internasional.

Bangsa Indonesia yang selama ini selalu dikatakan sebagai bangsa yang ramah, sabar dan toleran, tiba-tiba berubah brutal. Ratusan nyawa harus melayang dan ratusan pula harus terluka.

Siapa yang salah? Pertanyaan ini selalu menggelayuti kita semua. Sebab, tak seorangpun kan menyangka, pertandingan big match yang sengit antara tuan rumah Arema FC versus Persebaya yang dimenangkan tim tamu dengan skor 2-3 harus ditutup dengan linangan air mata.

Hanya gara-gara seorang oknum penonton yang kesal dan melompati pagar pembatas, 125 orang akhirnya menjadi korban ditambah dengan hampir 300-an lainnya terluka. Belum lagi Stadion Kanjuruhan yang bagaikan habis diroket, rusak dimana-mana. Gosong di tiap sudut serta bangkai kendaraan yang menghitam.

Sungguh ini tragedi kelam yang tak pantas terjadi di Bumi Indonesia yang bahkan di hari yang sama tengah memperingati Hari Kesaktian Pancasila.

H Oyong Liza, mantan pemain Timnas Indonesia era 70-an yang dihubungi BuliranNews sempat terdiam saat pertanyaan di atas diajukan. Setelah terdiam hampir satu menit, akhirnya pemain asal Ranahminang yang berkibar dengan panji Persija ini berucap tegas.

“Panitia pelaksana dan keamanan adalah pihak yang paling bertanggungjawab atas kejadian tersebut,” ucapnya serius.

Uda Oyong, demikian dia biasa disapa mengatakan, andai saja petugas tak bertindak berlebihan, mungkin kejadian yang menyayat hati itu tak akan pernah terjadi.

Dan seandainya saja panitia pelaksana bereaksi cepat dengan membuka pintu keluar, pastinya tak akan banyak penonton yang mengalami lemas dan sesak nafas serta terinjak-injak saat menyelamatkan diri.

Nasi telah jadi bubur, peristiwa itu tak mungkin direview agar tak terjadi. Merenung dan menyalahkan, bukan jalan terbaik. Sebab, noda yang hitam telah tercoreng di kening.

Prestasi Timnas Indonesia yang mulai kembali menawan dengan sederet prestasi yang telah mulai bisa dibanggakan, jangan sampai tenggelam dibalik aksi anarkisme tersebut.

“Dan satu lagi, meski sulit rasanya untuk berkelit, jangan sampai penunjukkan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-23 gagal,” katanya dengan mimik datar.

Menyesali yang telah terjadi adalah sebuah bukti kalau apa yang telah tersaji tak pantas dilakukan. Namun, jangan sampai lupa melakukan investigasi total terhadap pihak-pihak yang seyogyanya pantas dimintai pertanggungjawabannya. (teddy g chaniago)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *